Marek’s Disease (MD) adalah penyakit yang termasuk dalam penyakit limpoproliferatif menyerang ternak ayam disebabkan oleh herpesvirus. Marek’s Disease merupakan ancaman bagi industri peternakan ayam karena menimbulkan kerugian ekonomi untuk melakukan upaya mencegah dan mengkontrol penyakit tesebut. Sejak tahun 1968 Marek’s Disease sudah berhasil dikontrol dengan cara vaksinasi, namun virus Marek’s berkembang dan mengalami beberapa mutasi menjadi virulent dan resisten terhadap program vaksinasi yang telah diterapkan. Sehingga menimbulkan sifat immunosuppressive (Chuchill and Biggs, 1968). Penyakit Marek’s sudah tersebar diseluruh dunia dan umumnya menginfeksi ternak ayam yang berumur muda mengakibatkan tumor (lymphoma) pada organ viseral dan folikel bulu.

Etiologi dan Transmisi

Virus Marek’s termasuk dalam kategori Gallid Herpevirus-2 dalam genus Mardivirus  famili Herpesvirus sub-famili Alphaherpesvirinae  dan terbagi dalam 3 serotipe :MDV-1, MDV-2, dan Meleagrid Herpesvirus -1 (MDV-3) yang terkait secara antigen (Dunn et al., 2014). Diketahui untuk seroptime MDV-1 dapat menimbulkan infeksi, sedangkan untuk serotipe MDV-2 dan MDV-3 merupakan serotipe yang tidak bersifat onkogenik.

Virus Marek’s Disease di ternak ayam menyebabkan perubahan pada Sel T CD4+. Rute alami dalam hal penularan Virus Marek’s adalah secara inhalasi, partikel virus yang bersifat airborne dapat mengkontaminasi debu di udara. Ternak yang terinfeksi akan mereplikasi virus  Marek’s pada epitel folikel bulu dan berakhir di saluran pernafasan (Nazerian and Witter, 1970).

Patogenesis Marek’s Disease memiliki 4 fase pada inang yang sesuai, yaitu :

1) Fase Sitolitik yang terjadi selama 2 – 7 hari post infection yang mana terjadi replikasi virus dalam limfosit ;

2) Fase Latensi yang muncul pada hari ke 7 – 10 post infection dalam sel T CD4+ yang menyebabkan penyebaran virus secara sistemik ;

3) Fase Late Sitolitik dan Imunosupresif terjadi pada hari ke 18 post infection, fase ini terjadi akibat adanya reaktivasi sel T CD4+ ;

4) Fase Proliferasi yang terjadi pada hari ke 28 post infection yang ditunjukkan dengan adanya bentuk tumor pada organ pencernaan yang berasal dari transformasi sel T CD4+ (lymphoma).

Tidak diketahui adanya penularan virus Marek’s dari induk ayam ke telur (vertical transmission) namun pada ternak ayam biasanya terinfeksi pada tahap awal setelah penetasan (horizontal transmission)  (Calnek, 2001).

Gambar 1. Patogenesis Marek’s Disease

Adanya antibodi maternal terhadap virus Marek’s dapat menjaga DOC dan mengembangkan sistem kekebalan fungsional Marek’s Disease. Namun beberapa fakor dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi Marek’s Disease adalah infeksi virus yang bersifat immunosupresive lainnya seperti IBD, Reovirus, dan Chickken Infectious Anemia  Virus (CIAV) (Davidson, 2004).  

Gejala Klinis

Gejala yang ditunjukkan dari Marek’s Disease adalah sindrom Lymphoproliferative yang menyebabkan limpoma pada organ pencernaan dan biasanya asimetri paralisis di sayap. Pada fase awal akan terlihat adanya inkoordinasi dan ternak ayam cenderung tidak dapat bergerak karena paresis atau kelumpuhan unilateral. Ternak ayam akan terlihat menjatuhkan sayap dan menurunkan kepala serta leher. Jika virus menginfeksi hingga ke sistem saraf akan muncul gejala dilatasi tembolok dan ternak ayam akan mengalami sesak nafas.  Pada ayam yang terinfeksi virus Marek’s Disease dan diikuti gejala  sistem saraf umumnya memiliki tingkat mortalitas hingga 70%.

Gambar 2. Gejala ayam terinfeksi virus Marek’s Disease yang menyerang sistem saraf

Diagnosis

  1. 1. Diagnosis Patologi Anatomi

Pengamatan perubahan patologi anatomi pada ternak ayam yang terinfeksi Marek’s Disease menunjukkan adanya :

  • Pembesaran pada organ hepar dan limpa.
  • Lymphoma pada hepar, ovarium, proventriculus,  limpa, pulmo, jantung, kulit dan ginjal.
  • Bursa fabricius dan kelenjar timus mengalami atropi.
Gambar 3. 1) Organ hepar mengalam pembesaran dan terdapat nodul; 2) Terdapat nodul pada organ ovarium; 3) Terdapat nodul di jantung; 4) Pembesaran pada nervus; 5) Nodul pada folikel bulu dan kulit.

Pemeriksaan histopatologi untuk mendiagnosa Penyakit Marek’s pada ternak ayam menunjukkan adannya infiltrasi sel neoplastik.

2. Isolasi Virus

Isolasi  virus  dapat dilakukan untuk mendiagnosa Penyakit Marek’s. Prinsip dari isolavi virus Marek’s adalah mendeteksi virus Marek’s dari isolasi virus yang berasal dari jaringan ayam yang terinfeksi. Pada umumnya akan digunakan sel limpa, sel limpoma, sel bufy coat. Sebanyak 0,2 ml suspensi diinokulasi kan pada kultur sel  dan diinkubasi pada 37oC selama 7-10 hari. Hasil dari isolasi virus akan menunjukkan adanya  Cytopathic Effect (CPE) (OIE,  2010).

3. Uji Serologis

Diagnosa Virus Marek’s dapat dilakukan dengan uji interaksi antara antigen dan antibodi. Salah satu uji serologi yang sering dilakukan adalah ELISA. Dengan uji ELISA menunjukkan intensitas warna yang merupakan dasar dari terdeteksinya antiigen virus Marek’s (Churchill et al., 1969).

4. Uji Molekuler

Uji Molekuler yang  dilakukan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR). Dengan metode PCR dapat dibedakan virus Marek’s berdasarkan serotipe nya (Lee et al., 2000).

Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP)

Uji LAMP menggunakan 6 lokasi gen yang berbeda  sebagai target yang akan dikenali oleh 4 primer yang dirancang khusus sehingga reaksi uji ini dapat dilakukan pada suhu ruangan (Notomi  et al., 2000).

5. Immunofluorescene

Pada uji ini antibody virus Marek’s ditandai dengan bahan fluorecent sperti green fluorecsein protein (GFP). Saat GFP berikatan dengan target antigen akan menghasilkan cahaya fluorecene yang divisualisasikan dengan mikroskop fluorecene (Clarence,  1986).

Vaksinasi

Vaksin dapat dikategorikan dalam vaksin konvensional dan vaksin rekombinan. Vaksin konvensional tidak mengalami modifikasi genetik dan berasal dari virus yang tidak bersifat onkogenik (serotipe 2 dan serotipe 3) atau dapat digunakan virus onkogenik serotipe-1 dengan meng-attenuasi dan melakukan beberapa kali pasase di kultur sel.

Pencegahan dan Pemeliharaan

Tiga faktor penting dalam melakukan pencegahan Virus Marek’s di peternakan adalah biosekuriti, genetik ternak ayam, dan vaksinasi. Tujuan dalam penerapan Biosekuriti adalah untuk mencegah penyebaran dan infeksi dari virus Marek’s.  Biosekuriti yang diterapkan pada flock ternak ayam adalah kebersihan kandang dan desinfeksi, pembatasan kunjungan dari yang tidak berkepentingan, satu umur flock, menghindari kontak  dengan peternakan lain, dan lainnya.

Pemilihan genetik merupakan metode awal untuk mengkontrol penyakit Marek’s. Pemelilihan spesifik MHC-haplotipe pada ternak ayam terbukti lebih resisten Penyakit Marek’s. Sejak saat itu MHC Haplotipe digunakan untuk pemilihan bibit ternak ayam pada industri breeding (Chang et al.,  2012).

Vaksinasi menjadi hal yang paling penting untuk perlindungan ternak ayam terhadap virus Marek’s sejak tahun 1968. Dalam menerapkan program vaksin perlu beberapa hal yang dipertimbangkan, seperti tipe vaksin, umur, rute pemberian, dan dosis vaksin.

Referensi

Calnek BW (2001) Pathogenesis of Marek’s disease virus infection. Curr Top Microbiol Immunol 255:25–55

Chang, S., D.J.R., M. Heidari, L/F Lee, C.W. Ernst, J. Song, and H. Zhang, Vaccine by chiken line interaction alters the protective effiacy against challange with a very virulent plus straint of Marek’s Disease Virus in White Leghorn Chickens. World Journal of Vaccines 2:1-11. 2012.

Churchill, A.E and P.M. Biggs.Herpes-type virus isolated in cells cultures from tumors of chickens with Marek’s Disease II. Studies in vivo. J Natl. Cancer Inst. 41:951-956.1968

Churchill A, Chubb R, Baxendale W (1969) The attenuation, with loss of oncogenicity, of the herpes-type virus of Marek’s disease (strain HPRS-16) on passage in cell culture. J Gen Virol 4: 557-556.

Clarence MF, Asa mays, Harold EA (1986) Diseases of poultry. Merck veterinary manual. (6th Edtn), New Jersey.

Davidson F (2004) Marek’s disease: an evolving problem. Elsevier Academic Press, London

Dunn JR, Auten K, Heidari M, Buscaglia C. Correlation between Marek’s Disease Virus Pathotype and Replication. Avian Diseases 2014; 58 (2) : 287 -292.

Lee LF, Wu P, Sui D, Ren D, Kamil J, et al. (2000) The complete unique long sequence and the overall genomic organization of the GA strain of Marek’s disease virus. Proc Natl Acad Sci USA 97: 6091-6096.Notomi T, Hiroto O, Harumi M, Toshihiro Y, Keiko W, et al. (2000) Loopmediated isothermal amplification of DNA. Nucleic Acids Res 28: e63.

Nazerian K, Witter RL (1970) Cell-free transmission and in vivo replication of Marek’s disease virus. J Virol 5:388–397

OIE (Office International des Epizootics) (2010) Marek’s disease – manual of diagnostic test and vaccines for terrestrial animals.