Pandemi tidak terlepas dari penyakit infeksi baru karena hampir 70% penyakit pada manusia bersumber dari penyakit Zoonosis dari hewan. Resistensi Antimikroba merupakan ancaman global yang serius bagi kesehatan dan ketahanan pangan.
Berangkat dari hal tersebut menurut Dr.drh. Agustina Wijayanti,MP dosen Universitas Gadjah Mada pada kesemapatan webinar Stadium Generale dengan tema “Materi Pengayaan Kontrol penyakit zoonosis,penyakit infeksi baru dan terbarukan,kesehatan unggas,AMR/AMU dengan pendekatan One Health” pada sabtu (19/3) mengatakan bahwa penggunaan antimikroba yang tidak tepat (Misuse) dan masalah penyebaran mikroba resisten menyebabkan tingkat kesembuhan semakin kecil pada pasien.
Pada Unggas terjadinya resistensi antimikroba yang paling sering terjadi di karenakan penggunaan mikroba sebagai imbuhan pakan dosis sub terapi untuk mengatasi infeksi sekunder serta antimikroba tidak sesuai dosis terapi dan tidak dilakukanya evaluasi terapi “ Obat-obatan antimikroba yang paling sering digunakan pada unggas adalah neomycin dan Penicilin G digunakan untuk growth Promotor, kesehatan hewan dan produksi telur “ Kata Agustina. . Hal itu seiring dengan tulisan Susan M Noor dkk Tahun 2017 dengan judul permodelan dengan system dynamics penanganan antimicrobial resistence pada ayam pedaging terkait penggunaan antibiotic Oxytetracyclin dan Enrofloxacin bahwa pemakaian antibiotika sebagai pakan tambahan pada unggas (Ayam) merupakan suatu permasalahan mendasar yang harus ditangani secara berkelanjutan karena akan berdampak pada terjadinya resistensi berganda sebagai obat-obatan antimicrobial.
Unggas Merupakan salah satu sumber daging yang paling cepat pertumbuhanya di dunia. Unit produksi modern dapat menghasilkan ayam potong (Broiler) dalam waktu kurang dari 6 Minggu. Perkembangan ini disebabkan seleksi genetk, perbaikan pakan dan praktik manajemen kesehatan termasuk penggunaan antibiotic sebagai agen teraupetik untuk mengobat penyakit bacterial terutama dalam siste, peternakan unggas semi-insentif dan insentif .Menurut CIVAS tahun 2016 penggunaan antibiotic pada peternakan ayam kurang lebih terdapat 15 jenis antibiotic dimana Oxytetracyclin (OTC) dan Enrofloxacin merupakan penggunaan yang paling banyak (Survey dari 40 peternakan ayam layer di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, dan Karanganyar (Jawa Tengah) selain itu Aksesibilitas terhadap antibiotic dari survey CIVAS 2016 bahwa 60% peternak ayam mendapatkan antibiotic dari poultryshop dan 52,5% mendapat secara langsung dari para technical Service obat hewan/pakan.
Pada hasil penelitian lapang tahun 2017 oleh Widiastuti et al 2018 terdapat 31 responden dari kabupaten Malang dan Blitar memperlihatkan bahwa penggunaan antibiotic Enrofloxacin dan Oxytetracyclin (OTC) termasuk menjadi antibiotic yang banyak digunakan oleh para peternak.
Berangkat dari Hal tersebut maka diperlukan pendekatan One Health dalam upaya untuk penguatan system pemantauan, surveilans dan pelaporan untuk mencegah dan meminimalisir risiko AMR serta memeranginya, sehingga keberlangsungan keamanan pangan di Tingkat Nasional dan Internasional dapat terwujud dengan baik
Sumber : Balai Besar Penelitian Veteriner, Poultry Indonesia, dan AFKHI
