Aflatoksikosis disebabkan oleh aflatoksin yang merupakan salah satu jenis mikotoksin yang sering ditemukan pada pakan ayam. Merupakan senyawa metabolit (toksin) yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus flavus dan A. parasitic yang telah menyebar secara luas. Hingga saat ini aflatoksin, terutama aflatoksin B1 (AFB1) merupakan salah satu diantara lima jenis mikotoksin yang paling banyak mendapat perhatian karena berdampak pada kesehatan manusia dan hewan, seperti efek karsinogenik, mutagenik, teratogenik dan imunosupresif. Cemaran AFB1 pada pakan dapat menyebabkan terjadinya sirosis hepatis stadium awal pada ayam. Kemudian berdasarkan penelitian tingkat kontaminasi AFB1 pada pakan ayam petelur dan pedaging dari peternakan di Bogor relatif rendah, namun kejadian cemaran AFB1 pada pakan ayam petelur dan pedaging tinggi.

Gejala Klinis

  • unggas kehilangan nafsu makan
  • unggas tampak lesu 
  • pertambahan bobot badan terganggu
  • jengger dan pial pucat
  • kejang

Diagnosis

Pada pemeriksaan nekropsi terlihat adanya perubahan patologi anatomi yang khas yaitu adanya pembesaran organ hepar dan berwarna pucat kekuningan. Pada organ pankreas biasanya kecil dan mengalami depigmentasi dan terkadang terdapat perdarahan pada jaringan dan otot. Pada keadaan kronis organ hepar menjadi kecil, padat, dan sisinya menjadi tumpul. Selain itu lesi juga dapat ditemukan pada bursa fabrisius, timus, dan limpa yang menjadi berukuran kecil

Gambar 1. Gambaran makroskopis pembesaran organ hepar/ hati, berwarna pucat kekuningan, dan tumpul

Gambaran mikroskopis aflatoksikosis bentuk akut pada hepar meliputi pembentukan makro dan mikrovakuole di dalam sitoplasma (indikasi degenerasi melemak), nekrosis yang ekstensif, perdarahan, dan proliferasi duktus biliverus ukuran kecil. Aflatoksikosis bentuk kronik dapat menimbulkan degenerasi melemak, nekrosis dan nodular hiperplasia hepatosit, proliferasi duktus biliverus ukuran kecil, dan fibroplasia (proliferasi fibroblas) yang ekstensif.

Gambar 2. Gambaran histopatologik hepar ayam pedaging umur 21 hari yang menderita aflatoksikosis. Terlihat hiperplasia epitel duktus biliverus ukuran kecil, bentuk lumen tidak teratur, proliferasi fibroblas dan peningkatan jaringan ikat. (H.E., 400x) (Moenek dkk., 2016)

Pencegahan

Kontaminasi mikotoksin dapat dicegah dengan penerapan manajemen yang baik (good management practices) seperti sistem pemeliharaan, sistem penyimpanan pakan, serta sistem pemberian pakan pada ayam yang baik. Detoksifikasi dalam pakan ternak dengan penambahan feed aditif, penambahan bahan kimia (kalsium hidroksid, monoethilamin, amonia) dan bahan pengikat mikotoksin sehingga dapat menghasilkan produk pertanian, pakan dan pangan yang berkualitas serta terhindar dari kontaminasi mikotoksin.

Penanganan

Belum ditemukan penanganan/pengobatan yang efektif.

Referensi

Espada, Y., M. Domingo, J. Gomes, and M.A. Calvo, 2011, Pathological Lession Following an Experimental Intoxication With Aflatoxin B1 in Broiler Chickens, Elsevier, Spain

Martindah, E., Maryam R., Wahyuwardani S., dan Widiyanti P.M. 2015. Studi Pendahuluan Epidemiologi Kontaminasi Aflatoksin B1 pada Pakan Ayam. Prosiding Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner 2015.

Moenek, D.Y.J.A., A. Haryanto, dan C.R. Tabbu. 2016. Perubahan Patologis Hepar Akibat Cemaran Aflatoksin B1 pada Pakan Ayam Pedaging Komersial di Kota Kupang. Jurn. Kajian Veteriner Vol.4: 5 – 11.

Rodrigues I, Naehrer K. 2012. Prevalence of mycotoxins in feedstuffs and feed surveyed worldwide in 2009 and 2010. Phytopathol Mediterr. 51:175-192.

Williams JH, Phillips TD, Jolly PE, Stiles JK, Jolly CM, Aggarwal D. 2004. Human aflatoxicosis in developing countries: A review of toxicology, exposure, potential health consequences, and interventions. Am J Clin Nutr. 80:1106-1122.

Zinedine A., Juan C, Soriano JM, Moltó JC, Idrissi L, Mañes J. 2007. Limited survey for the occurrence of aflatoxins in cereals and poultry feeds from Rabat, Morocco. Int J Food Microbiol. 115:124-127.