Newcastle disease adalah penyakit akibat virus yang menyerang unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi pada peternakan unggas. Virus Avian Paramyxovirus 1 genus orthoavulavirus ini telah menginfeksi setidaknya 236 spesies burung liar dan spesies unggas dan menyebabkan Newcastle diseases. Penyakit ini menyebabkan masalah pada sistem respirasi, gastrointestinal, saraf, dan sistem reproduksi hingga menyebabkan kematian hingga 100% pada kelompok ayam yang tidak di vaksinasi. Penyebaran penyakit ini hampir ditemukan diseluruh dunia. Di Indonesia ND pertama kali di isolasi tahun 1926 dan menjadi penyakit endemik sampai saat ini.

Etiologi dan Transmisi

Newcastle Disease disebabkan oleh strain virulen dari Avian Paramyxovirus 1 (APMV-1) genus Avulavirus dan family Paramyxovirus dengan genom single-stranded (ss) RNA. Virus ini berbentuk pleomorfik, sebagian bulat kasar dengan diameter 100 – 500 nm, tetapi sebagian besar ditemukan dalam bentuk filamen dengan siameter 100 nm. Genom virus ini mempunyai 6 protein utama penyusun, yaitu: Nucleocapsid protein (N), Phosphoprotein (P), Matrix protein (M), Fusion Protein (F), Hemaglutinin-neuraminidase protein (HN), dan Large polymerase protein (L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa protein HN dan F mempunyai kontribusi yang signifikan dalam virulensi dan penyebaran virus ND dalam tubuh hospes. Virus ini ditularkan melalui air liur dan feses yang terinfeksi termasuk dari unggas liar.

Gambar 1. Pewarnaan negatif dan analisis tomografis elektron virus Newcastle disease (A) potongan digital dengan tebal 44 nm yang diambil pada bagian amplop virus. (B) Spike glikoprotein pada bagian amplop.

Gejala Klinis

Berdasarkan gejala klinis yang ditimbulkan pada ayam, ND dikelompokkan menjadi 5 patotipe, yaitu: viscerotropic velogenic (gangguan pencernaan), neutropic velogenic (gangguan respirasi dan saraf), mesogenic (gangguan pernafasan), lentogenic, dan asymptomatic enteric (gangguan subklinik pada pencernaan) yang dapat dibedakan berdasarkan susunan asam amino basic pada F0clavage site.

Gejala klinis ND dapat dilihat pada gambar berikut:

(A) Burung tampak lemah dan lesu dengan bulu yang kusam dan berdiri
(B) Cairan tembolok yang keluar dari mulut ayam
(C) Pendarahan jaringan limfoid kelopak mata bawah
(D) Telur dengan bentuk yang abnormal
(E) Nekrosis dan hemoragi (perdarahan) pada caeca tonsil
(F) Nekrosis dan hemoragi pada peyer’s patches usus kecil
(G) Limpa yang membesar dan area nekrosis yang telihat seperti bintik – bintik
This image has an empty alt attribute; its file name is image-9.png
(H) Haemoragi dan nekrosis proventriculus (Thumnail)

Diagnosis

Isolasi virus merupakan gold standard, tetapi teknik diagnose secara molekuler seperti Real-time reverse transcriptation PCR sering digunakan untuk diagnose penyakit secara cepat. OIE menerima temuan multifikasi asam amino basis pada belahan fusi atau nilai indeks patogenitas intracerebral sebesar 0,7 atau lebih besar dikonfirmasi dari APMV- 1 yang virulen. Diagnosis penyakit ini juga dapat dilihat melalui gejala klinis yang nampak, serta perubahan makroskopis dan mikroskopis pada organ unggas yang terinfeksi.

Pencegahan

Vaksinasi dapat mencegah morbiditas dan mortalitas, tetapi bukan infeksi virus. Vaksinasi dan biosecurity dengan ketat adalah kunci pencegahan dan pengendalian Newcastle diseases. Memusnahkan unggas yang terinfeksi seringkali diperlukan untuk mencegah wabah Newcastle diseases. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan meminimalisir stres pada unggas, mengontrol vektor atau unggas liar dalam kendang, managemen pemeliharaan yang baik, managemen higienitas dan pemusnahan limbah yang baik.

Penanganan

Penanganan unggas yang telah terinfeksi agar dapat sehat kembali mungkin akan sulit, tetapi dapat dilakukan penanganan penyakit untuk mencegah peningkatan penyebaran dan kematian unggas akibat ND. Pemusnahan unggas yang telah terinfeksi Newcastle disease adalah suatu penanganan agar unggas lain tidak tertular. Selain ini perlu dilakukan pencegahan terhadap penyakit ND seperti manajemen pemusnahan limbah, biosecurity dan lain – lain. Pencegahan terhadap adanya infeksi sekunder juga dapat dilakukan untuk menangani ND pada unggas, termasuk dengan cara meningkatkan imunitas dari unggas tersebut

Referensi

Hewajuli, D. A., dan Dharmayanti, N. L. P. I. 2011. Patogenitas Virus Newcastle Disease Pada Ayam. WARTAZOA Vol. 21 (2):72-80

Pattison, M., et al. 2008. Poultry Diseases. Elsevier: USA.

Ramtan, F. A., Ernawati, R., Rahardjo, A. P., Rahmawati, I. L,m Kartika, D., Widjaja, N. S., dan Rahmahani, J. 2018. Characterization of Newcastle Disease Virus Lentogenic Strain Infected Native Chicken from Surabaya, Indonesia. Philipp. J. Vet. Med. 55 (SI): 17-24.

Sharif, A., Ahmad, T., Umer, M., Rehman, A., dan Hussain, Z. 2014. Prevention and Control of Newcastle Disease. International Journal of Agricultural Innovation and Research Vol. 3 (2): 454-460.

Swayne, D. E., et al. 2020. Diseases of Poultry 14th Edition. Wiley Blackwell: USA.