Infectious Bursal Disease (IBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh Avibirnavirus yang bersifat immunosuppressive yang menyerang organ lymphoid pada ayam (Bursa Fabrisius). IBD menyebabkan kerusakan massif pada sel B dari organ lymphoid yang menyebabkan lymphopenia dan infeksi sekunder pada ayam yang terinfeksi (Lukert and Saif, 1997). Umumnya IBD bersifat akut dan sangat menular pada ternak ayam berumur muda. IBD menyebabkan kerugian ekonomi karena memiliki tingkat mortalitas yang tinggi pada ayam yang berumur 3-6 minggu dan diikuti infeksi sekunder seperti gangrenous dermatitis, infeksi E.Coli, dan kegagalan program vaksin (Muller et al., 2012).
Etiologi dan Transmisi
Virus IBD pertama kali ditemukan pada tahun 1962 di Gumboro, Delaware. Penyakit ini pertamakali dikenali sebagai penyakit avian neprosis dan setelah itu disebut dengan Penyakit Gumboro atau Bursitis. Isolate virus IBD yang ditemukan di isolasi pada telur SPF sehingga berhasil dikenali struktur virus IBD pada tahun 1967. IBD disebabkan oleh virus dari genus Avibirnavirus family Birnaviridae yang termasuk dalam virus RNA double stranded. Virus IBD memiliki struktur non enveloped dan berbentuk icosahedral.
Virus IBD memiliki 2 serotipe yaitu serotype 1 dan serotype 2 yang dapat menginfeksi ayam, kalkun, bebek, dan burung unta. Serotype 1 virus IBD bersifat very virulent varian (VVIBD) yang menjadi alasan kerugian ekonomi dan tingkat mortalitas yang tinggi di ayam, dan virus IBD serotype 1 selalu berkembang di lapangan dan membuat perubahan di sifat antigenitas dan virulensi.
Rute penularan virus IBD adalah melalui via pencernaan fecal-oral, dimana disebabkan dari pakan atau air minum yang terkontaminasi oleh virus IBD. Virus IBD mengalami shedding dalam jumlah yang banyak pada feses selama 2 minggu setelah infeksi. Burung liar dan rodensia dapat menjadi transport virus dan menjadi vector mekanik (Mc Ferran, 1993).
Masa inkubasi dari virus IBD cenderung membutuhkan waktu yang singkat. Setelah waktu inkubasi 2- 4 hari, anak ayam akan menunjukkan gejala klinis berupa lemas, stress, dan diikuti kematian 1 – 3 hari kemudian (Lukert and Saif, 1991).
Gejala Klinis
Gejala yang ditunjukkan dari infeksi virus IBD umumnya beragam berdasarkan faktor umur, strain virus yang menginfeksi, titer antibody maternal, tipe vaksin yang digunakan, dan lainnya.
Gejala utama pada ayam yang terinfeksi Virus IBD adalah :
- Menurun nya konsumsi pakan dan minum
- Diare mucous
- Tidur dengan paruh yang menempel ke lantai.
Setelah inkubasi selama 3-4 hari, gejala akan lebih jelas terlihat diikuti dengan kematian 20% atau lebih. Tingkat mortalitas oleh infeksi vvIBD bisa mencapai 50-100%.
Ternak ayam yang berhasil bertahan dari gejala klinis dan mortalitas, akan mengalami pemulihan. Namun bagaimana pun ternak ayam mengalami masa terlambat dalam pertumbuhan selama 3-5 hari.
Seringkali infeksi IBD dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti dibawah ini :
- Avian coccidiosis
- Newcastle Disease
- Chicken Infectious Anemia
- Stunting syndrome
- Mycotoxicosis
Diagnosis
- Diagnosis Patologi Anatomi
Pengamatan perubahan patologi anatomi ternak ayam yang terinfeksi virus IBD dapat terlihat dengan dilakukan nya nekropsi. Nekropsi harus dilakukan secepatnya sebelum ternak ayam yang mati mengalami autolisis.
Pada ayam yang terinfeksi oleh virus IBD akan terlihat perubahan patologi anatomi sebagai berikut :
- Hemmoragi di Bursa Fabrisius (patognomonis)
- Hemmoragi pada paha dan pectoral
- Pembesaran dan Hiperemi organ ginjal
- Airsacculitis
- Cardiac Hemmoragi (Khan et al., 2009).

Gambar 1. Terlihat organ bursa membesar dan kemerahan. Adanya hemmoragi pada bursa ayam.
Histopatologi dari bursa fabrisius juga menunjukkan adanya infiltrasi sel radang pada folikel bursa dan erosi sel epitel bursa. Pada beberapa kasus ditemukan juga adanya cystic pada folikel bursa (Sellaoui et al., 2012).

Gambar 2. Terlihat adanya infiltrasi sel radang dan hemmoragi di dalam folikel bursa fabrisius

2. Isolasi Virus
Pada fase akut dari penyakit IBD, Bursafabrisius (BF) diambil dan dimasukkan ke dalam larutan PBS. Isolat dari virus IBD didapatkan dengan cara menginfeksi telur ayam berembrio (TAB) pada membrane chorio allantoic.
TAB yang sudah diinokulasi diamati setiap harinya. Rata-rata TAB mengalami kematian pada hari ke tiga dengan embrio yang mengalami pendarahan dan edema (Dulwich et al., 2018).
3. Uji Serologis
Penggujian menggunakan Agar Gel Immunodiffusion (AGID) untuk mendeteksi antigen yang didapat dari bursa dengan cara menempatkan potongangan bursa pada kolom AGID plate.
Antigen capture ELISA digunakan untuk mendeteksi virus IBD serotype 1 yang mana plate ELISA sudah di lapisi dengan monoclonal antibody anti virus IBD (Synder et al., 1983).
4. Uji Molekuler
Real Time PCR (RT-PCR) merupakan uji yang dilakukan dalam mendiagnosis virus IBD. Sekuensing gen hVP2 bersama dengan uji patogenitas pada ayam merupakan uji yang paling akurat dan diterima sebagai metode pengujian dalam mengidentifikasi strain virus IBD.
5. Uji Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP)
LAMP dianggap 10 kali lebih sensitive dibandingkan uji RT-PCR. Karena LAMP memiliki kelebihan yaitu lebih cepat dan spesifik. Metode ini dipilih untuk deteksi virus di lapangan tanpa reaksi silang (Dharma et al., 2014).
Vaksinasi
Penggunaan vaksin live attenuated dan vaksin inaktif telah banyak digunakan di peternakan ayam untuk mencegah adanya infeksi IBD. Berdasarkan level atenuasi dan residual virulence, vaksin live dibedakan mejadi 2 yaitu mild dan intermediate. Vaksin intermediate biasanya digunakan untuk melindungi ternak ayam dari vvIBD (Van Den Berg et al., 2000). Live vaksin menginduksi respon antibody humoral dan selular, aplikasi vaksin live banyak diberikan pada air minum (Muelleret et al., 2003).
Pencegahan dan Manajemen Pemeliharaan
enerapan sanitasi dan higenitas pada kandang ternak ayam adalah salah satu cara pencegahan yang paling baik. Pemusnahan partikel virus IBD merupakan hal yang sukar untuk dilakukan, karena virus dapat bertahan hingga 122 hari di kandang dan 52 hari di air dan pakan (Muller et al, 2012). Penggunaan desinfektan yang sesuai dapat mengurangi viral load dan resiko penularan. Pengendalian vektor mekanik seperti nyamuk, rodensia, dan ulat juga perlu dilakukan. Pada kandang yang pernah terjadi wabah virus IBD kemungkinan ayam muda akan terpapar oleh virus IBD jika proses sanitasi tidak dilakukan secara benar (Lukert and Saif, 1991).
Referensi
Dhama K, Karthik K, Chakraborty S, et al. Loop-mediated isothermal amplification of DNA (LAMP): a new diagnostic tool lights the world of diagnosis of animal and human pathogens: a review. Pak J Biol Sci. 2014;17(2):151–166. doi:10.3923/pjbs.2014.151.166
Dulwich KL, Asfor AS, Gray AG, Nair V, Broadbent AJ. An ex vivo chicken primary bursal-cell culture model to study infectious bursal disease virus pathogenesis. J Vis Exp. 2018;4(140):e58489.
Khan R.W., Khan F.A., Khan I., Tariq M. Prevalence of infectious bursal disease in broiler in District Peshawar. ARPN. J. Agric. Biol. Sci. 2009;4:1–5
Lukert PD, Saif YM (1997) Infectious bursal disease. In: Calnek BW, Barnes HJ, Beard CW, Mcdougald LR, Saif YM (eds) Diseases of poultry. Iowa State University Press, Iowa, pp 721–738
Lukert PD; Saif YM, 1991. Infectious bursal disease. Diseases of poultry., ed. 9:648-663; 145 ref.
McFerran JB, 1993. Infectious bursal disease. Virus infections of birds., 213-228; 84 ref.
Müller H et al., 1992. Infectious bursal disease virus of poultry: antigenic structure of the virus and control. Veterinary Microbiology, 33:175-183
Müller, H., M. R. Islam, and R. Raue. 2003.“Research on Infectious Bursal Disease–the Past, the Present and the Future.”Veterinary Microbiology 97: 153–165. doi:10.1016/j. vetmic.2003.08.005
Müller H, Mundt E, Eterradossi N, Islam MR. Current status of vaccines against infectious bursal disease. Avian Pathol. 2012;41(2):133–139. doi:10.1080/03079457.2012.661403
Lukert PD; Saif YM, 1991. Infectious bursal disease. Diseases of poultry., ed. 9:648-663; 145 ref.
Sellaoui S., Alloui N., Mehenaoui S., Djaaba S. Evaluation of size and lesion scores of bursa cloacae in broiler flocks in Algeria. J. World’s Poult. Res. 2012;2:37–39.
Van Den Berg, T. P. 2000.“Acute Infectious Bursal Disease in Poultry: A Review.”Avian Pathology 29: 175–194. doi:10.1080/03079450050045431




















