Coccidiosis disebabkan oleh infeksi protozoa genus Eimeria. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan unggas. Penyakit ini menyebabkan pertumbuhan unggas menjadi tidak optimal karena efisiensi penyerapan nutrisi di dalam usus menjadi terganggu.
Etiologi dan Transmisi
Terdapat 9 spesies Eimeria yang dapat mengakibatkan Coccidiosis pada ayam antara lain, E.acervulina, E.brunetti, E.maxima, E.mitis, E.mivati, E.necatrix, E.praecox, E.hagani, dan E.tenella.
Pada penelitian Hamid et.al (2018) terdapat 7 spesies Eimeria yang teridentifikasi pada ayam di Jawa Tengah dengan prevalensi tertinggi E. tenella, lalu diikuti oleh E. maxima, E. necatrix, E. acervulina, E. praecox, E. mitis, dan E. brunetti.
Pada kalkun kejadian Coccidiosis disebabkan oleh E.adenoiedes, E.dispersa, E.gallopavonis, dan E.meleagridis.Coccidiosis pada itik disebabkan oleh E.aythyae, E.burcephalae, E.somateriae, E.truncata, dan Tyzzeria perniciosa. Coccidiosis pada angsa disebabkan oleh E.anseris, E.kotlani, dan E.truncata.
Identifikasi spesies Eimeria yang menginfeksi dapat ditentukan dengan melihat keparahan lesi, lokasi lesi pada saluran intestine, oocyt (bentuk, warna dan ukuran), ukuran skizon dan merozoit, periode pre-paten minimum, waktu minimum untuk sporulasi, dan imunogenisitas yang ditimbulkan.

Penularan Coccidiosis terjadi melalui termakannya oocyst infektif dalam pakan atau air minum. Lalat berperan sebagai vektor mekanik dalam menyebarkan oocyst yang ada di dalam feses. Oocyst bersporulasi yang tertelan akan berkembang biak di dalam sel epitel usus halus dan menghasilkan oocyst yang belum bersporulasi dan keluar bersama feses ke lingkungan. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui peralatan dan petugas kandang yang berpindah-pindah.
Gejala Klinis
- unggas terlihat bergerombol di sudut kandang
- unggas tampak lesu akibat kehilangan nafsu makan
- pertambahan bobot badan terganggu
- jengger dan pial pucat
- pada ayam petelur produksi menurun
- bulu kusut
- diare berdarah

Diagnosis
Metode diagnosis yang dapat dilakukan pada unggas hidup adalah melalui pemeriksaan feses secara mikroskopis untuk melihat ookista Eimeria, enzyme linkedimmunosorbent assay (ELISA) ataupun Polymerase Chain Reaction (PCR).
Pada pemeriksaan nekropsi terdapat terlihat adanya perubahan patologi anatomi yang khas yaitu adanya perdarahan di sepanjang usus halus, perdarahan berupa ptechiae pada mukosa usus terutama pada bagian sekum.

Gambaran mikroskopis infeksi kosidiosis pada ayam terlihat pada Gambar 3 yang menunjukkan adanya enteritis akibat infeksi E. acervulina berupa kerusakan jaringan pada vili mukosa beserta stadium pertumbuhan Eimeria spp. yaitu zygotes/makrogamet, ookista, dan tropozoit. Selain kerusakan epitel mukosa, koksidiosis juga menimbulkan nekrosis sel epitel vili mukosa, haemoragi dan infiltrasi sel mononuklear (limfosit dan makrofag) serta sel eosinofil.

Pencegahan
- Sanitasi dan biosekuriti yang baik
- Vaksinasi
- Pemberian probiotik untuk melindungi mukosa usus dan merangsang sistem imun atau kekebalan tubuh unggas
- Pemberian obat herbal sebagai feed additive
Penanganan
- Koksidiostat : Koksidiostat yang dapat digunakan adalah sulfaquinoksalin, sulfadimetoksin, kombinasi sulfadimetoksin dan ormetroprim, klopidol, dekokuinat, amprolium, kombinasi amprolium dan etopabat, nikarbazin, lasalosid (polieter ionofor), salinomisin, monensin, maduramisin, diklazuril, dan toltazuril. Penggunaan koksidiostat harus sesuai dengan dosis yang tepat untuk menghindari terjadinya resistensi dan juga adanya residu pada hasil ternak
- Obat Herbal : Obat herbal yang dapat dimanfaatkan sebagai koksidiostat diantaranya adalah lidah buaya, mengkudu, jahe, sambiloto, temulawak, temu ireng, dan ekstrak daun Artemesia annua. Penggunaan obat herbal ini dapat meningkatkan imunitas, menambah nafsu makan, dan mengurangi stres sehingga dapat menekan infestasi Eimeria. Bahan alami ini juga turut mencegah terjadinya resistensi dan residu pada hasil ternak yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Referensi
Castanon, C.B., Fraga, J.S., Fernandez, S., Gruber, A., and da F. Costa, L. 2007. Biological shape characterization for automatic image recognition and diagnosis of protozoan parasites of the genus Eimeria. Pattern Recognition Vol.40(7): 1899-1910. DOI: 10.1016/j.patcog.2006.12.006
Dinev, I. 2007. Disease of Poultry: A Colour Atlas. Faculty of Veterinary Medicine, Trakia University, Stara Zagora.
Ekawasti, F. dan Martindah, E. 2019. Pengendalian Koksidiosis Pada Ayam Melalui Pengobatan Herbal (Control of coccidiosis in chickens through herbal medicine). WARTAZOA Vol.29(1): 001-012. DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v29i1.2048
Hamid, P.H., Kristianingrum, Y.P., Wardhana, A. H., Prastowo, S., Riberio da Silva, L.M. 2018. Chicken Coccidiosis in Central Java, Indonesia: A Recent Update. Hindawi Veterinary Medicine International. DOI: https://doi.org/10.1155/2018/8515812
Kementerian Pertanian. 2014. Manual Penyakit Unggas: Coccidiosis. Hal.194-201.
Wiedosari, E. dan Sani, Y. 2020. Koksidiosis sebagai Faktor Predisposisi Enteritis Nekrotika pada Ayam dan Pencegahannya (Coccidiosis as A Predisposition Factor for Necrotic Enteritis in Poultry and Their Prevention). WARTAZOA 30(3): 139-148. DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v30i3.2504
Wiedosari E, Wardhana AH. 2017. Anticoccidial activity of Artemisinin and Extract of Artemesia annua leaves in chicken infected by Eimeria tenella. JITV Vol.22(4): 196-204
